Kita terlalu pandai “rasa selamat”.
Selagi belum kena batang hidung sendiri, kita anggap semua masih okay.
Geran hilang?
“Nanti cari bah.”
Cukai tertunggak?
“Belum kena kacau lagi.”
Pusaka belum urus 15 tahun?
“Keluarga sendiri juga tu.”
Itulah ayat yang akhirnya makan diri.
Kita juga terlalu kuat pegang budaya “tidak enak hati”.
Tidak mahu tegur keluarga sendiri.
Tidak mahu tanya pasal geran sebab takut dikata tamak.
Tidak mahu bincang pembahagian sebab takut keluarga terasa.
Akhirnya semua diam.
Tetapi dalam diam itu:
- syak wasangka tumbuh,
- marah terkumpul,
- dan kepercayaan perlahan-lahan rosak.
Satu lagi perangai kita…
Suka bangga dengan tanah, tetapi malas urus.
Kalau sembang di kedai kopi:
“Kami ada tanah berpuluh ekar.”
Tetapi cuba tanya:
- geran atas nama siapa?
- sudah pecah geran ka belum?
- ada jalan masuk ka tidak?
- status pusaka selesai ka belum?
Terus sunyi.
Kita suka rasa kaya sebab ada tanah.
Padahal banyak keluarga sebenarnya “kaya atas kertas” saja.
Tanah ada.
Tetapi tidak boleh dibangunkan.
Tidak boleh dijual dengan mudah.
Tidak boleh dijadikan kekuatan ekonomi keluarga.
Paling bahaya bila kita mula terlalu percaya sama keluarga tanpa sistem yang jelas.
“Tidak payah hitam putih bah.”
“Saudara sendiri juga.”
“Pegang mulut saja cukup.”
Sampai satu hari:
- orang meninggal,
- anak cucu bertukar,
- harga tanah naik,
- dan janji lama tiba-tiba hilang dari ingatan.
Masa itu baru semua sibuk cari:
- saksi,
- surat,
- sempadan,
- dan kebenaran sebenar.
Kita orang Sabah juga kadang terlalu lambat sedar nilai masa.
Kita ingat urusan tanah boleh tunggu.
Padahal setiap tahun yang berlalu:
- waris makin ramai,
- kos makin mahal,
- dokumen makin susah dicari,
- dan hubungan keluarga makin rapuh.
Dan reality paling pahit?
Kadang-kadang orang luar lebih teratur menjaga nilai tanah daripada pemilik asal sendiri.
Bukan sebab mereka lebih berhak.
Tetapi sebab mereka:
- lebih disiplin,
- lebih faham sistem,
- lebih cepat bertindak,
- dan tidak tangguh urusan.
Ini bukan soal malu.
Ini soal sedar.
Kalau kita masih urus tanah pakai emosi, ego dan budaya “nanti dulu”…
Jangan terkejut kalau satu hari nanti anak cucu kita cuma mewarisi:
- pergaduhan,
- fail bertimbun,
- dan cerita bahawa “dulu keluarga kita banyak tanah.”
